Minggu, 12 Oktober 2014

Review buku Schleiermacher:Hermeneutics Criticism
Interpretasi gramatikal dan interpretasi psikologi
oleh: HADARI (S3) UIN SUKA YOGYAKARTA
2014

          Buku ini membicarakan tentang penafsiran makna sebenarnya sebuah teks didapatkan dengan rekonstruksi historis saat teks tersebut ditulis. Jadi apa yang dimaksud oleh sebuah teks bukanlah apa yang kelihatannya dikatakan kepada sang pembaca. Dalam pembacaan teks, Schleiermacher berpendapat bahwa interpretasi dapat dicapai dengan dua cara, yaitu ketatabahasaan dan psikologis (grammatical and psychological interpretation) yakni:
          Interpretasi (penafsiran) gramatikal, yang berkaitan dengan aspek linguistik yang membentuk batasan-batasan di mana sebuah kegiatan berpikir diatur. Dalam penafsiran ini, pendekatan yang digunakan dengan menggunakan metode komparatif yang bermula dari yang umum ke yang khusus. Penafsiran gramatikal disebut juga penafsiran obyektif serta dapat juga dikatakan penafsiran negatif. Hal ini disebabkan hanya menunjukkan batas-batas pemahamannya saja. Interpretasi tata-bahasa berfungsi untuk menyingkap arti sebuah kata dan interpretasi.
          Penafsiran psikologis, yang berusaha menciptakan kembali tindak kreatif yang menghasilkan teks dan kegiatan sosial. Penafsiran psikologi melibatkan  penempatan seseorang dalam pikiran penulis atau actor social supaya dapat mengetahui apa yang diketahui oleh seorang penulis atau yang dipersiapkan dalam kegiatan social. Hal ini merupakan proses yang memerlukan banyak tenaga untuk menyusun konteks kehidupan tempat suatu kegiatan terjadi dan mendapatkan makna. Dalam penafsiran ini, pendekatan yang digunakan dengan metode komparasi dan semacam ramalan. Hermeneutika memang bermula dari analisis psikologis akan tetapi akhirnya harus dikembangkan ke konteks social yang lebih luas. Dia juga berpendapat bahwa sebuah fenomena harus ditempatkan pada situasi keseluruhan yang lebih luas tempat fenomena tersebut mendapatkan maknanya, bagian-bagian memperoleh pemaknaan dari  keseluruhan dan keseluruhan mendapatkan pemaknaan dari bagian-bagian. Jadi yang menjadi penekanannya bergeser dari pemahaman empatik atau rekonstruksi proses mental orang lain ke arah penafsiran hermeneutik tentang produk budaya struktur konseptual.
          Metode ini pelaku hermeneutika mentransformasikan dirinya dalam diri penulis untuk menggali proses mentalnya. Penafsiran ini disebut juga penafsiran teknis. Melalui penafsiran inilah tugas seorang hermeneutic terpenuhi. Selain disebut sebagai penafsiran teknis, penafsiran ini juga disebut penafsiran positif karena berusaha memahami tindak berpikir yang melahirkan wacana. Psikologis berfungsi untuk mengetahui motif pengarang ketika menulis teks tersebut.
          Schleiermacher juga menegaskan bahwa makna setiap kata harus dipahami sebagai bagian dari keseluruhan mental pengarang. Ketika tahapan ini dicapai, maka seorang penafsir dapat memahami teks sebaik pengarang atau bahkan lebih baik darinya dan memahami diri sang pengarang lebih baik dari pengarang memahami dirinya sendiri.
          Schleiermacher memberi penjelasan tentang bagaimana suatu kata dapat di pahami sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan seperti, seperti arti dan makna penggunaan bahasa tertentu. Beberapa orang berpendapat bahwa menyebutkan apa yang mengerti dengan kaitannya dengan kata dan maknanya sendiri, tapi pendapat orang demikian merupakan dalam konteks tertentu saja. Kata yang memiliki arti dan tidak masuk akal sebenarnya adalah menyesuaikan dengan proposisi untuk maknanya sendiri tetapi belum memiliki signifikansi yang hanya di ucapkan oleh orang-orang tertentu.
          Menurut Schleiermacher, ada jurang pemisah antara berbicara atau berfikir yang sifatnya internal dengan ucapan aktual. Seseorang harus mampu mengadaptasi buah pikiran ke dalam kekhasan lagak ragam dan tata bahasa. Dalam setiap kalimat yang diucapkan, terdapat dua momen pemahaman, yaitu apa yang dikatakan dalam konteks bahasa dan apa yang dipikirkan oleh pembicara. Setiap pembicara mempunyai waktu dan tempat, dan bahasa dimodifikasi menurut kedua hal tersebut. Menurut Schleiermacher, pemahaman hanya terdapat di dalam kedua momen yang saling berpautan satu sama lain itu. Baik bahasa maupun pembicaranya harus dipahami sebagaimana seharusnya.
          Menurut Schleiermacher, ada dua tugas hermeneutika yang pada hakikatnya identik satu sama lain, yaitu intrepretasi gramatikal dan interpretasi psikologis. Bahasa gramatikal merupakan syarat berpikir setiap orang. Sedangkan aspek interpretasi psokologis memungkinkan seseorang menangkap ‘setitik cahaya’ pribadi penulis. Oleh karenanya, untuk memahami pernyataan-pernyataan pembicara orang harus mampu memahami bahasanya sebaik memahami kejiwaannya. Semakin lengkap pemahaman seseorang atas sesuatu bahasa dan psikologi pengarang, akan semakin lengkap pula interpretasinya. Kompetensi linguistik dan kemampuan mengetahui seseorang akan menentukan keberhasilannya dalam bidang seni interpretasi. Schleiermacher menekankan bahwa distingsi-distingsi, termasuk pendekatan gramatikal dan psikologis, ini tidak boleh dipertentangkan, melainkan harus diterapkan sekaligus untuk memahami suatu teks, sebab semua ini saling memerlukan dan melengkapi.
          Walaupun demikian, Schleiermacher menawarkan sebuah rumusan positif dalam bidang seni interpretasi, yaitu rekonstruksi historis, objektif dan subjektif terhadap sebuah pernyataan. Dengan rekonstruksi objektif-subjektif dia bermaksud membahas sebuah pernyataan dalam hubungan dengan bahasa sebagai keseluruhan. Dengan rekonstruksi subjektif-historis dia bermaksud membahas awal mulanya sebuah pernyataan yang masuk dalam pikiran seseorang. Schleiermacher sendiri menyatakan bahwa tugas hermeneutik adalah memahami teks “sebaik atau lebih baik daripada pengarangnya sendiri” dan “memahami pengarang teks lebih baik daripada memahami diri sendiri”. Schleiermacher mengatakan bahwa pemahaman kita peroleh dengan melihat bagaimana semua bagian itu berhubungan satu sama lain. Rekonstruksi menyeluruh koherensi suatu teks tidak akan pernah lengkap jika detail-detailnya tidak diperhatikan. Keseluruhan proses ini adalah metode hermeneutik, suatu proses memahami dan interpretasi.
          Menurut Schleiermacher, ada dua metode untuk mendapatkan pemahaman yang benar yaitu komparatif dan divinatoris. Metode komparatif bekerja dengan menempatkan pengarang dalam suatu tipe umum. Metode ini lebih bersifat klasifikatoris untuk keperluan komparasi antara satu teks dengan teks lain atau satu pengarang dengan pengarang lain. Metode ini ditempuh dengan membuat perbandingan antara teks-teks yang ada, dan juga antara aneka terjemahan, serta mempelajari konteks hidup pengarang, tokoh dan aliran yang berpengaruh pada zamannya. Cara ini terkait dengan segala sesuatu yang bisa menjadi referensi untuk memahami dengan tepat suatu teks.
          Sedangkan metode divinatoris merupakan cara intuitif untuk memahami suatu teks. Hal ini dilakukan, misalnya, dengan membuat diri betah dan ‘masuk’ ke dalam teks itu (Einleben). Metode divinatoris berupaya memeroleh pemahaman langsung tentang si pengarang sebagai individual dengan membawa sang penafsir untuk mentransformasi dirinya ke dalam diri si pengarang. Menurut Schleiermacher, cara intuitif seperti ini dapat ditemukan di dalam diri anak-anak. Seorang anak, misalnya, akan mengalami apa itu ‘cinta’, ‘kepercayaan’, ‘iman’, ‘bahaya’ tanpa penyelidikan lebih dahulu, melainkan langsung saja menghayatinya dalam sikap pasrah-aktif kepada ibu dan lingkungannya. Dalam hal ini, Schleiermacher menekankan hermeneutika sebagai seni dimana seorang penafsir harus mampu menggunakan daya imajinasi-intuisi, tebak-tebakan kreatif, untuk secara jitu menebak maksud pengarang.
          Schleiermacher membedakan hermeneutik dalam pengertian ilmu atau seni memahami dengan hermeneutik yang didefinisikan sebagai studi tentang memahami. Ia menulis: Semenjak seni berbicara dan seni memahami berhubungan satu sama lain, maka berbicara merupakan sisi luar dari berpikir, hermeneutik adalah bagian dari seni berpikir itu dan oleh karenanya bersifat filosofis.
          Kompetensi linguistik dan kemampuan mengetahui seseorang sangat menentukan keberhasilan sebuah interpretasi. Karena dua hal tersebut sangat sulit mengingat, Schleiermacher mempunyai sebuah rumusan positif dalam bidang seni interpretasi yaitu rekonstruksi hitoris, obyektif dan subyektif terhadap sebuah pernyataan.
          Menurut saya ada beberapa Kekurangan dan Kelebihan Pemikiran Scheleirmacher:
KEKURANGAN HERMENEUTIK SCHLEIERMACHER
Schleiermacher menyatakan bahwa tugas hermeneutik adalah
“ Memahami teks ‘sebaik atau lebih baik dari pengarangnya sendiri’ dan ‘memahami pengarang teks lebih baik dari memahami diri sendiri’.”
          Untuk melakukan hal tersebut, tentunya diperlukan suatu pandangan yang menyeluruh sebelum melakukan interpretasi. Pandangan awal tersebut tidak hanya tentang obyek atau peristiwa saja tetapi juga tentang bahasa dan masarakatnya juga. Aspek psikologis dari interpretasi tersebut, telah menyebabkan lebih banyak kontroversi dan kritik untuk Schleiermacher, dan inilah teori yang akan diperiksa di seluruh penyelidikan. Dimensi psikologis melibatkan masuk ke dalam pikiran kreatif penulis asli. Hal ini sulit tentunya sulit dilakukan oleh penafsir pemula, yaitu bagaimana dapat memahami teks ‘sebaik atau lebih baik dari pengarangnya sendiri’ dan ‘memahami pengarang teks lebih baik dan memahami diri sendiri’.
          Tentunya hal ini sama sulitnya dengan persoalan sebelumnya. Bagaimana mungkin orang dapat menafsir sebuah teks dengan makna yang lebih “ dalam “ ketimbang penulis yang sebenarnya, nampaknya ini sesuatu yang sukar.
          Schleiermacher juga banyak belajar dari Spinoza dan Plato. Spinoza dan Plato lebih menekankan pada Emosi Manusia dan Imajinasi . berangkat dari hal ini Schleiermacher lebih banyak menggunakan eksegese dalam menafsirkan sebuah teks dan menekan emosi yang mungkin di dalamnya terdapat kepentingan penafsir terhadap teks tersebut , sehingga menurut kami hasil dari tafsir tersebut kurang begitu akurat.
          Filosofis Hermeutika yang kembangkan lebih kepada interpretasi penafsir sehingga hasilnya kurang begitu obyektif , karena banyak interpretasi dari penulis ketimbang dari teks itu sendiri, Filososfis dari Schleimaker juga dasar pengandaian dari sebuah teks , pengandaian teks tersebut akan membuat makna teks menjadi rancu dan keluar dari makna sebenarnya.
KELEBIHAN HERMENEUTIK SCHLEIERMACHER
          Hermeneutika Schleiermacher berkaitan dengan seni memahami makna wacana, dan dengan seni menghindari salah tafsir makna wacana. Schleiermacher menjelaskan bahwa hermeneutika tidak hanya seni memahami makna wacana, tetapi adalah seni menghindari kesalahpahaman. Menarik sekali bahwa Schleiermacher menjelaskan penyebab dari kesalahpahaman dalam menafsir, yaitu:
· Ketidakpastian dalam arti kata
· Ambiguitas dalam arti kata-kata
· Kontradiksi atau inkonsistensi dalam penggunaan kata-kata

· Tidak perhatian ke pengaturan atau konteks dimana kata-kata yang digunakan
· Praduga salah terhadap makna kata-kata.
          Demikian pula pemikirannya mengenai pemahaman tata bahasa dan psikologis bisa mengandaikan satu sama lain. Dalam rangka memahami makna gramatikal dari sebuah ucapan lisan atau tertulis, kita mungkin harus memahami makna psikologis, dan untuk memahami makna psikologis, kita mungkin harus memahami makna gramatikal. Dalam rangka untuk memahami sebuah ucapan sebagai tindakan berbicara atau menulis, kita mungkin harus memahaminya sebagai tindakan pikiran, dan untuk memahaminya sebagai tindakan pikiran, kita mungkin harus memahaminya sebagai tindakan pidato atau menulis[4].
          Melalui penjelasan mengenai 3 taraf “ memahami”, yaitu:
1. Taraf pertama ialah interpretasi dan pemahaman mekanis,
2. Taraf kedua ialah taraf ilmiah,
3. Taraf ketiga ialah taraf seni.

          Schleiermacher menekankan bagaimana semua bagian itu berhubungan satu sama lain. Rekonstruksi menyeluruh koherensi suatu teks tidak akan pernah lengkap jika detail-detailnya tidak diperhatikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar