Review buku Schleiermacher:Hermeneutics Criticism
Interpretasi
gramatikal dan interpretasi psikologi
oleh:
HADARI (S3) UIN SUKA YOGYAKARTA
2014
Buku
ini membicarakan tentang penafsiran makna sebenarnya sebuah teks didapatkan
dengan rekonstruksi historis saat teks tersebut ditulis. Jadi apa yang dimaksud
oleh sebuah teks bukanlah apa yang kelihatannya dikatakan kepada sang pembaca.
Dalam pembacaan teks, Schleiermacher berpendapat bahwa interpretasi dapat
dicapai dengan dua cara, yaitu ketatabahasaan dan psikologis (grammatical and
psychological interpretation) yakni:
Interpretasi
(penafsiran) gramatikal, yang berkaitan dengan aspek linguistik yang membentuk
batasan-batasan di mana sebuah kegiatan berpikir diatur. Dalam penafsiran ini,
pendekatan yang digunakan dengan menggunakan metode komparatif yang bermula
dari yang umum ke yang khusus. Penafsiran gramatikal disebut juga penafsiran
obyektif serta dapat juga dikatakan penafsiran negatif. Hal ini disebabkan
hanya menunjukkan batas-batas pemahamannya saja. Interpretasi tata-bahasa
berfungsi untuk menyingkap arti sebuah kata dan interpretasi.
Penafsiran
psikologis, yang berusaha menciptakan kembali tindak kreatif yang menghasilkan
teks dan kegiatan sosial. Penafsiran psikologi melibatkan penempatan seseorang dalam pikiran penulis
atau actor social supaya dapat mengetahui apa yang diketahui oleh seorang penulis
atau yang dipersiapkan dalam kegiatan social. Hal ini merupakan proses yang
memerlukan banyak tenaga untuk menyusun konteks kehidupan tempat suatu kegiatan
terjadi dan mendapatkan makna. Dalam penafsiran ini, pendekatan yang digunakan
dengan metode komparasi dan semacam ramalan. Hermeneutika memang bermula dari
analisis psikologis akan tetapi akhirnya harus dikembangkan ke konteks social
yang lebih luas. Dia juga berpendapat bahwa sebuah fenomena harus ditempatkan
pada situasi keseluruhan yang lebih luas tempat fenomena tersebut mendapatkan
maknanya, bagian-bagian memperoleh pemaknaan dari keseluruhan dan keseluruhan mendapatkan
pemaknaan dari bagian-bagian. Jadi yang menjadi penekanannya bergeser dari
pemahaman empatik atau rekonstruksi proses mental orang lain ke arah penafsiran
hermeneutik tentang produk budaya struktur konseptual.
Metode
ini pelaku hermeneutika mentransformasikan dirinya dalam diri penulis untuk
menggali proses mentalnya. Penafsiran ini disebut juga penafsiran teknis.
Melalui penafsiran inilah tugas seorang hermeneutic terpenuhi. Selain disebut
sebagai penafsiran teknis, penafsiran ini juga disebut penafsiran positif
karena berusaha memahami tindak berpikir yang melahirkan wacana. Psikologis berfungsi
untuk mengetahui motif pengarang ketika menulis teks tersebut.
Schleiermacher
juga menegaskan bahwa makna setiap kata harus dipahami sebagai bagian dari
keseluruhan mental pengarang. Ketika tahapan ini dicapai, maka seorang penafsir
dapat memahami teks sebaik pengarang atau bahkan lebih baik darinya dan
memahami diri sang pengarang lebih baik dari pengarang memahami dirinya
sendiri.
Schleiermacher memberi penjelasan
tentang bagaimana suatu kata dapat di pahami sebagai satu kesatuan yang tak
terpisahkan seperti, seperti arti dan makna penggunaan bahasa tertentu. Beberapa
orang berpendapat bahwa menyebutkan apa yang mengerti dengan kaitannya dengan
kata dan maknanya sendiri, tapi pendapat orang demikian merupakan dalam konteks
tertentu saja. Kata yang memiliki arti dan tidak masuk akal sebenarnya adalah
menyesuaikan dengan proposisi untuk maknanya sendiri tetapi belum memiliki
signifikansi yang hanya di ucapkan oleh orang-orang tertentu.
Menurut Schleiermacher, ada jurang
pemisah antara berbicara atau berfikir yang sifatnya internal dengan ucapan
aktual. Seseorang harus mampu mengadaptasi buah pikiran ke dalam kekhasan lagak
ragam dan tata bahasa. Dalam setiap kalimat yang diucapkan, terdapat dua momen
pemahaman, yaitu apa yang dikatakan dalam konteks bahasa dan apa yang
dipikirkan oleh pembicara. Setiap pembicara mempunyai waktu dan tempat, dan
bahasa dimodifikasi menurut kedua hal tersebut. Menurut Schleiermacher,
pemahaman hanya terdapat di dalam kedua momen yang saling berpautan satu sama
lain itu. Baik bahasa maupun pembicaranya harus dipahami sebagaimana
seharusnya.
Menurut Schleiermacher, ada dua tugas
hermeneutika yang pada hakikatnya identik satu sama lain, yaitu intrepretasi
gramatikal dan interpretasi psikologis. Bahasa gramatikal merupakan syarat
berpikir setiap orang. Sedangkan aspek interpretasi psokologis memungkinkan
seseorang menangkap ‘setitik cahaya’ pribadi penulis. Oleh karenanya, untuk
memahami pernyataan-pernyataan pembicara orang harus mampu memahami bahasanya
sebaik memahami kejiwaannya. Semakin lengkap pemahaman seseorang atas sesuatu
bahasa dan psikologi pengarang, akan semakin lengkap pula interpretasinya.
Kompetensi linguistik dan kemampuan mengetahui seseorang akan menentukan
keberhasilannya dalam bidang seni interpretasi. Schleiermacher menekankan bahwa
distingsi-distingsi, termasuk pendekatan gramatikal dan psikologis, ini tidak
boleh dipertentangkan, melainkan harus diterapkan sekaligus untuk memahami
suatu teks, sebab semua ini saling memerlukan dan melengkapi.
Walaupun demikian, Schleiermacher
menawarkan sebuah rumusan positif dalam bidang seni interpretasi, yaitu
rekonstruksi historis, objektif dan subjektif terhadap sebuah pernyataan.
Dengan rekonstruksi objektif-subjektif dia bermaksud membahas sebuah pernyataan
dalam hubungan dengan bahasa sebagai keseluruhan. Dengan rekonstruksi
subjektif-historis dia bermaksud membahas awal mulanya sebuah pernyataan yang
masuk dalam pikiran seseorang. Schleiermacher sendiri menyatakan bahwa tugas
hermeneutik adalah memahami teks “sebaik atau lebih baik daripada pengarangnya
sendiri” dan “memahami pengarang teks lebih baik daripada memahami diri
sendiri”. Schleiermacher mengatakan bahwa pemahaman kita peroleh dengan melihat
bagaimana semua bagian itu berhubungan satu sama lain. Rekonstruksi menyeluruh
koherensi suatu teks tidak akan pernah lengkap jika detail-detailnya tidak
diperhatikan. Keseluruhan proses ini adalah metode hermeneutik, suatu proses
memahami dan interpretasi.
Menurut Schleiermacher, ada dua metode
untuk mendapatkan pemahaman yang benar yaitu komparatif dan divinatoris. Metode
komparatif bekerja dengan menempatkan pengarang dalam suatu tipe umum. Metode
ini lebih bersifat klasifikatoris untuk keperluan komparasi antara satu teks
dengan teks lain atau satu pengarang dengan pengarang lain. Metode ini ditempuh
dengan membuat perbandingan antara teks-teks yang ada, dan juga antara aneka
terjemahan, serta mempelajari konteks hidup pengarang, tokoh dan aliran yang
berpengaruh pada zamannya. Cara ini terkait dengan segala sesuatu yang bisa
menjadi referensi untuk memahami dengan tepat suatu teks.
Sedangkan metode divinatoris merupakan
cara intuitif untuk memahami suatu teks. Hal ini dilakukan, misalnya, dengan
membuat diri betah dan ‘masuk’ ke dalam teks itu (Einleben). Metode divinatoris
berupaya memeroleh pemahaman langsung tentang si pengarang sebagai individual
dengan membawa sang penafsir untuk mentransformasi dirinya ke dalam diri si
pengarang. Menurut Schleiermacher, cara intuitif seperti ini dapat ditemukan di
dalam diri anak-anak. Seorang anak, misalnya, akan mengalami apa itu ‘cinta’,
‘kepercayaan’, ‘iman’, ‘bahaya’ tanpa penyelidikan lebih dahulu, melainkan
langsung saja menghayatinya dalam sikap pasrah-aktif kepada ibu dan
lingkungannya. Dalam hal ini, Schleiermacher menekankan hermeneutika sebagai
seni dimana seorang penafsir harus mampu menggunakan daya imajinasi-intuisi,
tebak-tebakan kreatif, untuk secara jitu menebak maksud pengarang.
Schleiermacher membedakan hermeneutik
dalam pengertian ilmu atau seni memahami dengan hermeneutik yang didefinisikan
sebagai studi tentang memahami. Ia menulis: Semenjak seni berbicara dan seni
memahami berhubungan satu sama lain, maka berbicara merupakan sisi luar dari
berpikir, hermeneutik adalah bagian dari seni berpikir itu dan oleh karenanya
bersifat filosofis.
Kompetensi linguistik dan kemampuan
mengetahui seseorang sangat menentukan keberhasilan sebuah interpretasi. Karena
dua hal tersebut sangat sulit mengingat, Schleiermacher mempunyai sebuah
rumusan positif dalam bidang seni interpretasi yaitu rekonstruksi hitoris,
obyektif dan subyektif terhadap sebuah pernyataan.
Menurut
saya ada beberapa Kekurangan dan Kelebihan Pemikiran Scheleirmacher:
KEKURANGAN HERMENEUTIK SCHLEIERMACHER
Schleiermacher menyatakan bahwa
tugas hermeneutik adalah
“ Memahami teks ‘sebaik atau
lebih baik dari pengarangnya sendiri’ dan ‘memahami pengarang teks lebih baik
dari memahami diri sendiri’.”
Untuk
melakukan hal tersebut, tentunya diperlukan suatu pandangan yang menyeluruh
sebelum melakukan interpretasi. Pandangan awal tersebut tidak hanya tentang
obyek atau peristiwa saja tetapi juga tentang bahasa dan masarakatnya juga.
Aspek psikologis dari interpretasi tersebut, telah menyebabkan lebih banyak
kontroversi dan kritik untuk Schleiermacher, dan inilah teori yang akan
diperiksa di seluruh penyelidikan. Dimensi psikologis melibatkan masuk ke dalam
pikiran kreatif penulis asli. Hal ini sulit tentunya sulit dilakukan oleh
penafsir pemula, yaitu bagaimana dapat memahami teks ‘sebaik atau lebih baik
dari pengarangnya sendiri’ dan ‘memahami pengarang teks lebih baik dan memahami
diri sendiri’.
Tentunya
hal ini sama sulitnya dengan persoalan sebelumnya. Bagaimana mungkin orang
dapat menafsir sebuah teks dengan makna yang lebih “ dalam “ ketimbang penulis
yang sebenarnya, nampaknya ini sesuatu yang sukar.
Schleiermacher
juga banyak belajar dari Spinoza dan Plato. Spinoza dan Plato lebih menekankan
pada Emosi Manusia dan Imajinasi . berangkat dari hal ini Schleiermacher lebih
banyak menggunakan eksegese dalam menafsirkan sebuah teks dan menekan emosi
yang mungkin di dalamnya terdapat kepentingan penafsir terhadap teks tersebut ,
sehingga menurut kami hasil dari tafsir tersebut kurang begitu akurat.
Filosofis
Hermeutika yang kembangkan lebih kepada interpretasi penafsir sehingga hasilnya
kurang begitu obyektif , karena banyak interpretasi dari penulis ketimbang dari
teks itu sendiri, Filososfis dari Schleimaker juga dasar pengandaian dari
sebuah teks , pengandaian teks tersebut akan membuat makna teks menjadi rancu
dan keluar dari makna sebenarnya.
KELEBIHAN HERMENEUTIK SCHLEIERMACHER
Hermeneutika
Schleiermacher berkaitan dengan seni memahami makna wacana, dan dengan seni
menghindari salah tafsir makna wacana. Schleiermacher menjelaskan bahwa
hermeneutika tidak hanya seni memahami makna wacana, tetapi adalah seni
menghindari kesalahpahaman. Menarik sekali bahwa Schleiermacher menjelaskan
penyebab dari kesalahpahaman dalam menafsir, yaitu:
· Ketidakpastian dalam arti kata
· Ambiguitas dalam arti kata-kata
· Kontradiksi atau inkonsistensi
dalam penggunaan kata-kata
· Tidak perhatian ke pengaturan
atau konteks dimana kata-kata yang digunakan
· Praduga salah terhadap makna
kata-kata.
Demikian
pula pemikirannya mengenai pemahaman tata bahasa dan psikologis bisa
mengandaikan satu sama lain. Dalam rangka memahami makna gramatikal dari sebuah
ucapan lisan atau tertulis, kita mungkin harus memahami makna psikologis, dan
untuk memahami makna psikologis, kita mungkin harus memahami makna gramatikal.
Dalam rangka untuk memahami sebuah ucapan sebagai tindakan berbicara atau
menulis, kita mungkin harus memahaminya sebagai tindakan pikiran, dan untuk
memahaminya sebagai tindakan pikiran, kita mungkin harus memahaminya sebagai
tindakan pidato atau menulis[4].
Melalui
penjelasan mengenai 3 taraf “ memahami”, yaitu:
1. Taraf pertama ialah
interpretasi dan pemahaman mekanis,
2. Taraf kedua ialah taraf
ilmiah,
3. Taraf ketiga ialah taraf seni.
Schleiermacher
menekankan bagaimana semua bagian itu berhubungan satu sama lain. Rekonstruksi
menyeluruh koherensi suatu teks tidak akan pernah lengkap jika detail-detailnya
tidak diperhatikan.